Rotan merupakan material yang sering digunakan untuk membuat furnitur di Indonesia. Perabotan rotan saat ini kurang digemari dibandingkan dengan perabotan kayu ataupun besi karena dianggap kuno, tidak minimalis dan cepat rusak akan tetapi ternyata perabotan dapat menjadi perabotan yang berkualitas jika diolah dengan benar. Sebagai buktinya adalah kursi rotan Lukis Chair yang diproduksi di Indonesia dan kini telah di akui di level Indonesia bahkan telah dijual di Italia.

Dibalik Lukis Chair terdapat Abie Abdillah merupakan pemilik dari Stuidohiji dan juga pemiliki salah satu koleksi dalam brand furnitur rotan di Italia, Cappellini. Abie Abdillah berhasil menyulap rotan menjadi perabotan minimalis serta klasik akan tetapi tetap terlihat eksentrik. Abie sendiri fokus pada rotan karena menganggap bahwa material tersebut merupakan material asli Indonesia yang mencerminkan kebudayaan Indonesia.
Inilah Kursi Rotan Buatan Indonesia Yang Telah Go International
“Rotan adalah material asli dari Indonesia. 80 persen rotan di dunia berasal dari Indonesia sehingga tidak ada salahnya jika kita fokus pada pengembangan rotan menjadi perabotan yang bernilai tinggi. Mindset kurang baik mengenai rotan harus diubah seperti mudah rusak. Saat ini tentunya masih banyak rintangan untuk membuat rotan yang baik sekaligus untuk dapat diterima di Indonesia.,” jekas Abie.

Oleh karena itu, Abie mendirikan Studiohiji pada tahun 2014 dan sering mengikutkan karya hasil studio nya tersebut dalam berbagaii lomba ataupun kompetisi desain. Hingga suatu saat, seorang pria asal Bandung memasukkan Lukis Chair pada sebuah pemeran yang mendatangkan Giullio Cappellini yang merupakan ikon desain interior dan juga pemilik brand Cappellini. Kursi tersebut diminta langsung untuk diperbaiki sehingga dapat masuk kedalam gerai Cappellini.

“Dirinya melihat stand out. Kami kemudian mengembangkan bersama tim dari Italia dan kami kembangkan di Indonesia. Kami lalu dapat undangan dari Milan Design Week 2016 dan disana kami sejajarkan dengan karya desainer ternamaan yang telah dikenal diseluruh dunia dan berpengalaman. Lukis Chair akhirnya menjadi salah satu koleksi di Capelliini,” kata Abie.

Lukis Chair sendiri terinspirasi dari kata Bulu Tangkis yang sempat populer dan Indonesia mendominasi salah satu cabang olahraga tersebut pada tahun 80-an dan 90-an yang mana pada tahun tersebut rotan mencapai masa keemasannya. Awalnya kursi tersebut dibuat seperti raket dan hanya digunakan untuk indoor. Guilio melihat potensi dalah kursi tersebut dan bekerjasama lebih lanjut dengan Abie.

“Saya kagum dengan konsep kursi ini yang terlihat klasik dan kontemporer. Sangat cocok untuk lingkungan yang klasik. Saya banyak berharap dapat memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dengan produk lainnya,” kata Giullio.